02160 2200325 4500001002100000005001700021008004100038020001800079035002400097040001200121082001700133084001700150090002100167100002500188245013100213250001200344260004500356300003900401500001100440504003100451520121500482650001001697700002601707700002201733700002001755850001201775990001601787990001501803990001601818YOGYA-1112000000028320170103090647.0 ind  a979-25-2530-0 0010-111200000000283 aYOPDYOG 2[22]a739.72 a739.72 HAR k aCoE 739.72 HAR k aHARYONO HARYOGURITNO aKeris Jawa antara mistik dan nalar /cHaryono Haryoguritno; editor, Waluyo Wijayanto, Anton M. Moeliono, Stanley Hendrawidjaja aCet. 1. aJakarta :bIndonesia Kebanggaanku,c2005 axxxii, 424 hlm. :bilus. ;c30 cm. aIndeks aBibliografi : hlm. 418-419 aKeris adalah salah satu karya nenek moyang bangsa Indonesia dalam khasanah budaya tradisional. Pembuatan karya seni ini menggunakan teknik tempa yang cukup rumit. Kerumitannya terletak pada seni tempa pamor yang indah., yang dulu hampir tidak terjangkau oleh penalaran awam. Ada anggapan bahwa motif pamor pada bilah keris adalah akibat campur tangan para dewa, makhluk gaib, atau kekuatan supra natural lainnya. Karena itu dapat dipahami mengapa keris masa lalu oleh sebagian masyarakat dikeramatkan dengan segala akibat sampingnya. Bahkan sampai awal abad ke-21 ini dengan berbagai tradisi yang berkaitan dengan pengeramatan keris masih diikuti orang dengan pemberian sesaji, kemenyan, dupa, hio, bunga-bungaan atau wewangian. Pada awalnya keris memang dibuat untuk senjata tikam. Dengan perkembangan zaman, fungsinya lambat laun beralih dari senjata menjadi benda seni, pengungkapan falsafah, maupun pengejawantahan simbol dan harapan. Lebih dari itu, keris juga menjadi pusaka bagi sebagian rakyat Indonesia, khususnya yang berasal dari jawa. Anggapan ini berakar pada tata nilai dinamisme, animisme, Hindu, Budha, dan Cina. Bahkan nilai-nilai Islam pu harus diperhitungkan dalam memahami dunia perkerisan. aKeris aStanley Hendrawidjaja aAnton M. Moeliono aWahyu Wijayanto aYOPDYOG a428-PD/A.12 a427-PD/A12 a426-PD/A.12