02144 2200289 4500001002100000005001700021008004100038020002200079035002400101040001200125082002300137084002500160090002900185100001900214245013100233260005400364300003900418504003000457520125000487650001701737700002501754700001501779850001201794990001601806990001601822990001601838YOGYA-1112000000000320170103093051.0 ind  a978-979-910-367-3 0010-111200000000003 aYOPDYOG 2[22]a679.73095982 a679.730 959 82 DWI k aCoE 679.730 959 82 DWI k aDWI CAHYONO, M aKretek Jawa :bGaya hidup lintas budayac/ Tim penulis, M. Dwi Cahyono ... [et al.]; penyusun, Rudy Badil, TR. Setianto Riyadi aJakartabKepustakaan Populer Gramedia (KPG)c2011 axxvii, 171 hlm. :bilus. ;c30 cm. aBibliografi: hlm. 166-167 aKretek bukan sekadar komoditi. Dalam perjalanan sejarahnya ia juga membentuk sebuah kultur. Tidak hanya memasyarakatnya kebiasaan mengisap kretek, namun juga dampak industrialisasi kretek itu sendiri. Kebiasaan mengisap rokok sebenarnya sudah lama dikenal oleh masyarakat, khususnya Jawa. Sejumlah sumber susastra lama menyiratkan hal itu, meskipun tidak ada kejelasan apakah apa yang mereka isap saat itu merupakan rokok tembakau seperti yang kita kenal sekarang. Menurut hasil rieset Zoetmulder yang dikutip dalam buku ini, dalam kitab-kitab lama ada kata dasar udud yang diartikan sebagai rokok. Jika benar kata udud memiliki arti rokok seperti yang dikenal dalam bahasa Jawa saat ini, maka itu berarti kebiasaan merokok sudah dikenal lama dalam masyarakat Jawa. Lalu dari mana asal-usul kata kretek? Kretek diperkirakan muncul berdasarkan onomatope atau sebutan yang dimunculkan berdasarkan bunyi. Hal ini disebabkan rokok tembakau yang ditambah cengkeh akan menimbulkan bunyi kretek-kretek. Ada beberapa hal menarik yang disampaikan dalam buku ini. Salah satunya adalah mengenai buruh pabrik kretek. Sebuah pabrik kretek besar di Kudus, Jawa Tengah, misalnya, menjadi gantungan hidup bagruh, baik dari Kudus ataupun kota-kota di sekitarnya. aRokok - Jawa aSetianto Riyadi, TR. aRudy Badil aYOPDYOG a294-PD/A.12 a293-PD/A.12 a292-PD/A.12